BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Lahir Nya Demokrasi Indonesia
A. Demokrasi
Sejak digulirkannya reformasi tahun 1998, wacana dan gerakan demokrasi terjadi secara masif dan luas di Indonesia. Hasil penelitian mengatakan “mungkin untuk pertama kali dalam sejatah demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar untuk semua system organisasi politik dan social yang diperjuangkan oleh para pendukungnya yang berpengaruh” (UNESCO 1949).
Hamper semua Negara di dunia menyakini demokrasi sebagai “tolak ukur tak terbantah dari keabsahan politik. Keyakinan bahwa kehendak rakyat adalah dasar utama kewenangan pemerintah menjadi basis bagi tegak kokohnya politik demokrasi. Awal abad ini pun kita akan terus menyaksikan gelombang aneksasi paham demokrasi mewabah keseluruh Negara berbarengan dengan isu-isu global lainnya seperti hak asasi manusia, masalah gender dan persoalan lingkungan hidup.
Pada saat ini hamper semua Negara mengaku bahwa sistem pemerintahannya adalah demokrasi.
BAB II
PEMBAHASAN
1 Demokrasi di Indonesia
A. Demokrasi desa
Bangsa Indonesia sejak dahulu telah mempraktekkan ide tentang demokrasi meskipun masih sederhana dan bukan dalam tingka kenegaraan. Di tingkat bawah, bangsa Indonesia telah berdemokrasi, tetapi ditingkat atas Indonesia pada masa lalu adalah feodal. Menurut Muhammad hatta dalam fatmawahyono 1990, desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan kepala desa dan adanya rembuk desa. Itulah yang disebut demokrasi asli.
Demokrasi desa memiliki memiliki 5 unsur yaitu
o Rapat
o Mufakat
o Gotong-royong
o Hak mengadakan protes bersama
o Hak menyingkir dari kekuasaan raja absolute
Kelima unsur demokrasi desa tersebut dapat dikembangkan menjadi konsep demokrasi Indonesia modern. Demokrasi Indonesia modern menurut Muhammad Hatta harus meliputi:
o Demokrasi dibidang Politik
o Demokrasi dibidang Ekonomi
o Demokrasi dibidang Sosial
Demokrasi Pancasila
Bersumber pada ideologinya, demokrasi yang berkembang di Indonesia adalah demokrasi Pancasila. Nilai-nilai luhur pancasila yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 sesuai dengan pilar-pilar demokrasi modern.
Nilai-nilai demokrasi yang terjabar dari nilai-nilai pancasila tersebut adalah sebagai berikut
1. Kedaulatan Rakyat
Hal ini didasarkan pada pembukaan uud 1945 alinea IV, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara republic Indonesia yang berkedaulatan rakyat…
2. Republik
Hal ini didasarkan pada pembukaan uud 1945 alinea IV yang berbunyi”… dalam suatu susunan Negara republik Indonesia…..”
3. Negara berdasar atas hukum
Hal ini didasarkan pada kalimat “… Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuik memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social…” Negara hokum Indonesia menganut hokum arti luas dan materil
4. Pemerintahan yang konstitusional
Berdasar pada kalimat”… maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar Negara Indonesia …” UUD Negara Indonesia 1945 adalah konstitusi Negara
5. System perwakilan
Berdasarkan sila keempat pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/perwakilan
6. Prisip musyawarah
Berdasarkan sila keempat pancasila, yaitu dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
7. Prinsip ketuhanan
Demokrasi di Indonesia harus dapat dipertanggungjawabkan, ke bawah kepada rakyat dan ke atas dipertanggung jawabkan secara moral kepada tuhan.
Demokrasi pancasila dapat diartikan secara luas maupun sempit, sebagai berikut.
o Secara luas demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai pancasila dalam bidang politik, ekonomi, dan social.
o Secara sempit demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Perkembangan demokrasi Indonesia
Perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surut dan setua dengan usia republic Indonesia itu sendiri.
Lahirnya konsep demokrasi dalam sejarah modern Indonesia dapat sitelusuri pada siding-sidang BPUPKI antara bulan mei sampai juli 1945. meskipun pemikiran mengenai demokrasi telah ada pada para pemimpin bangsan sebelumnya, namun pada momen tesebut, pemikiran mengenai demokrasi telah ada pada pemimpin sebelumnya .namun pada m,oment tersebut, pemikiran mengenai demokrasi semakin mengkristal menjadi wacan publik dan politis.
Paradigma kenegaraan Soepomo yang disampaikan tanggal 31 mei 1945 terkenal dengan ide integralistik bangsa Indonesia. Menurut Soepomo, politik pembangunan Negara harus sesuai dengan struktur social masyarakat Indonesia.
Membicarakan pelaksanaan demokrasi tidak lepas dari periodesasi demokrasi yang pernah berlaku dan sejarah Indonesia. Menurut Mirriam Budiardjo (1997) dipandang dari sudut perkembangan sjarah , demokrasinindonesia sampai masa orde baru dapat dibagi dalam tiga masa sebagai berikut.
a. Masa Republik 1, yang dinamakan dengan demokrasi terpimppin
b. Masa Republk II , yaitu masa demokrasi terpimpiin.
c. Masa Republik III , yaitu masa demokrasi pancasila yang menonjolkan sistem presidensil
Pelaksanaan demokrasi Indonesia dapat pula dibagi kedalam periode berikut .
a. Masa revolusi tahun 1945 sampai1950
b. Masa orde lama yang terdiri dari :
Demokrasi Liberal tahun 1950-1959
Demokrasi Terpimpin tahun 1959-1965
c. demokrasdsi masa orde baru tahun 1966-1998
d. masa transisi tahun 1998-1999
e. masa reformasi sampai sekarang.
D. Sistem Politik Demokrasi
1. Landasan Sistem Politik Demokrasi di Indonesisa
Landasan negaran Indonesia sebagai Negara demokrasi terdapdat dalam:
o Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke 4 yaitu” makandisusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD nengara RI yang terbentuk dalam suatu susunan negrfa RI yang berkedaulatan rakyat…”
o Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa kedaaulatan di tangan rakyat dan dilakukan menurut ketentuan UUD.
2. Sendi-sendi pokok system politik demokrasi Indonesia
Adapun sendi-sendi pokok dari system politk demokrasi di Indonesia sebagai berikut.
o Ide Pokok Kedaulatan Rakyat
bahwa yhang berdaulat di Negara demokrasi adalah rakyat. Trcermin dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi ‘ kedaulatan ditangan rakyht dan diperlakukkan menurut UUD’.
o Negara berdasar atas huukum
tercerrmin dalam pasal 1 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi “ Negara Indonesia adalah negra hokum
o Bentuk Republik
Tercermin dalam pasal 1 ayat 1UUd 1945 yang berbunyi “ Negara indonesia ialah kesatuan , yang berfbentuk republik’./
o Pemerintahanberdasarkan konstitusi
Tercermin dalam pasal 4 ayat 1 UUD 1945 “ presiden Indonesia memegang kekuasaan pemerintah menurut UUD”.
o pemerintah yang bertanggung jawab
o sistem perwakilan
o sistem pemerintahan yang presidensill
3. Masa Depan Demokrasi
Demokrasi bisa ditindas untuk sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan, ia akan muncul dengan penuh keinsafan”. Demikian ucapan Muhammad hatta (1966) atas keyakinannya bahwa demokrasi telah menjadi tolak ukur tak terbantah keabsahan politik semua bangsa di dunia. Setiap Negara mengaku diri sebagai Negara demokrasi dengan sedapat mungkin menunjukkan atribut-atribut deokrasi yang dipakai. Di penghujung abad ke-20 kita menyaksikan gelombang aneksasi paham demokrasi mewabah ke seluruh dunia. Demokratisasi telah menjadi isu global berbarengan dengan hak asasi manusia dan persoalan lingkungan hidup. Semua optimis dan berharap akan masa depan demokrasi.
Selasa, 15 Desember 2009
Diksi
Diksi
Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran - kata formal atau informal dalam konteks sosial - adalah yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.
Diksi terdiri dari delapan elemen: Fonem, Silabel, Konjungsi, Hubungan, Kata benda, Kata kerja, Infleksi, dan Uterans.
Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran - kata formal atau informal dalam konteks sosial - adalah yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.
Diksi terdiri dari delapan elemen: Fonem, Silabel, Konjungsi, Hubungan, Kata benda, Kata kerja, Infleksi, dan Uterans.
Pengertian iman menurut ahlus sunnah wal jama'ah
PENGERTIAN IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Iman Bisa Bertambah atau Berkurang.
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah
Pertanyaan.
Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang ?
Jawab.
Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :
1. Ikrar dengan hati.
2. Pengucapan dengan lisan.
3. Pengamalan dengan anggota badan
Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. (Al-Baqarah : 260)
Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.
Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.
Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.
Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.
Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.
وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (Al-Mudatstsir : 31)
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.
Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya:
• Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.
• Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman.
وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (Adz-Dzariyat : 20-21).
Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.
• Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.
Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:
• Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.
• Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.
• Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)
• Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.
Iman Bisa Bertambah atau Berkurang.
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah
Pertanyaan.
Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang ?
Jawab.
Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :
1. Ikrar dengan hati.
2. Pengucapan dengan lisan.
3. Pengamalan dengan anggota badan
Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. (Al-Baqarah : 260)
Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.
Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.
Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.
Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.
Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.
وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (Al-Mudatstsir : 31)
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.
Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya:
• Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.
• Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman.
وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (Adz-Dzariyat : 20-21).
Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.
• Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.
Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:
• Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.
• Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.
• Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)
• Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.
Iman Kepada Takdir
Tugas Terstruktur Dosen Pembimbing Aqidah AZNI, SHI. MA
IMAN KEPADA TAKDIR
MAKALAH AQIDAH
DISUSUN OLEH
ANGGI GANIA PUTRI
ENITA RAHAYU
M. NOVRIANTO
LOKAL II F PBI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2009
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya , sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik . Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi raamat sekalian alam . Seiring dengan itu , tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini .
Makalah ini menjelaskan tentang Iman Kepada Takdir. Iman kepada takdir merupakan hal yang penting yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dalam makalah ini juga di sebutkan firman dan hadist nabi yang mewajibkan beriman kepada takdir. Juga dijelaskan macam-macam takdir dan hikmah beriman kepada takdir.
Penulis menyadari akan kekurangan dari makalah ini . Karena “ Tak ada gading yang tak retak ”. Oleh karena itu , saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat berguna bagi pembaca .
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………….. ii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………………... 1
1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………1
2. Identifikasi Masalah ……………………………………………………….. 1
3. Batasan Masalah ……………………………………………………………2
4. Metode Pembahasan ………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………... 3
1. Pengertian Takdir ………………………………………………………….. 3
2. Macam – macam Takdir ……………………………………………………5
3. Hikmah Beriman Kepada Takdir ………………………………………….. 7
BAB III PENUTUP …………………………………………………………………... 8
1. KESIMPULAN …………………………………………………………..... 8
2. SARAN ……………………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 9
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Takdir merupakan hal penting yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Karena sesesungguhnya takdir kita telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan oleh Allah. Jadi mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
Dan jikalau imannya rendah maka dia akan menyesali setiap musibah yang ditimpakan kepadanya. Perlu diingat bahwa, setiap hal yang telah ditentukan pasti terjadi. Dan takdir itu ada yang bisa dirubah dengan berusaha, yaitu dengan do’a dan usaha. Jikalau kita berhasil maka sesungguhnya Allahlah yang memindahkan kita dari takdir yang jelek ke takdir yang baik.
Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Pengertian Takdir
2. Macam – macam Takdir
3. Hikmah Beriman Kepada Takdir
Batasan Masalah
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada Pengertian, Macam-macam dan Hikmah Beriman Kepada Takdir.
Metode Pembahasan
Dalam hal ini penulis menggunakan:
1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang takdir manusia yang telah ditentukan Allah.
2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Takdir
Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Iman kepada Takdir adalah rukun iman yang keenam. Oleh karena itu orang yang mengingkarinya termasuk ke dalam golongan orang kafir. Dalil yang menunjukkan wajibnya iman kepada takdir terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah, yaitu :
“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(Al-Hadid:22)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Al-Qamar: 49).
Adapun dari hadits adalah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad tentang iman, maka Nabi Muhammad bersabda, “Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruk." (Bukhari Muslim).
Abdullah bin Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.” (HR. Muslim)
Iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa:
1. Allah mengetahui segala sesatu sebelum terjadi. Karena tidak ada sesutu pun yang luput dari pengetahuan Allah.
2. Semua yang yang terjadi di alam semesta ini terjadi karena kehendak Allah yang terlaksana dan tidak ada peran siapa pun di sana.
3. Bahwa semua yang terdapat di alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan karena kehendak-Nya.
4. Allah mencatat segala sesuatu sejak awal mula penciptaan dalam kitab-Nya (lauhul Mahfuzh).
Takdir Allah itu mencakup:
• Tata aturan alam semesta, seperti peredaran planet, aliran air, hembusan angin, susunan atom dan lain-lain.
• Yang terjadi pada kita dan kita tidak kemapuan untuk memilih dan ikhtiyar, seperti dijadikan laki-laki atau perempuan, dilahirkan di Indonesia atau di Arab, di Eropa dan lain-lain.
• Perbuatan-perbuatan yang berdasarkan pilihan, meliputi perbuatan mubah, ketaatan dan perbuatan maksiat.
Banyak orang yang keliru dalam memahami takdir, mereka menyangka bahwa Allah menakdirkan suatu akibat terpisah dari sebabnya, menakdirkan suatu hasil terpisah dari usaha untuk mencapainya. Maka jika ada orang yang mengatakan tidak akan menikah dengan alasan jika Allah telah menakdirkannya punya anak pasti dia punya anak walau tanpa menikah. Atau dia tidak mau makan dengan alasan jika Allah menakdirkan dia kenyang, dia pasti kenyang walau tanpa makan.
Maka orang yang ditakdirkan untuk masuk surga dia akan beramal shaleh. Dan jika dia berbuat maksiat, maka dia akan ditakdirkan masuk neraka. Jadi Allah menakdirkan sebab dan akibat secara bersama-sama. Artinya usaha dan sebab adalah bagian dari takdir Allah. Inilah yang ditunjukkan oleh hadits Rasulullah dan pemahaman para sahabat.
Rasulullah pernah ditanya seseorang, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang obat-obatan yang kami pergunakan untuk berobat, bacaan-bacaan tertentu untuk penyakit kami, dan perisai yang kami pakai untuk menangkis serangan musuh, apakah itu semua dapat menolak takdir Allah?” beliau menjawab, “Itu semua juga adalah takdir Allah.”
Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (Al-Hadits)
Suatu saat Abu Ubaidah memasuki wilayah yang sedang terjangkit wabah Tha’un, maka Umar memerintahkannya untuk keluar dari wilayah tersebut. Abu Ubaidah menyangkal dengan mengatakan, “Apakah kita akan lari dari takdir Allah.” Maka Umar menjawabnya, “Ya kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”
Ibnu Qayyim berkata, “Orang yang pintar adalah orang yang menolak takdir dengan takdir, dan melawan takdir dengan takdir. Bahkan sejatinya manusia tidak dapat hidup kecuali dengan itu. Karena lapar, dahaga, takut adalah bagian dari takdir. Dan semua makhluk senantiasa berusaha menolak takdir dengan takdir.”
Masalah takdir adalah masalah ghaib dan dirahasiakan Allah, kita tidak tahu apakah akan selamat atau celaka, yang tampak di hadapan kita adalah syariat, maka kewajiban kita adalah menjalankan syariat dan hasilnya akan sesuai dengan yang ditakdirkan oleh Allah.
2. Macam-macam Takdir
1) TAKDIR AZALI (TAKDIR UMUM)
Yaitu meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai Hari Kiamat.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid :22)
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Alloh telah mencatat seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Alloh menciptakan langit dan bumi.” 1)
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (Pena), lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah!’ Ia menjawab :’Wahai Robb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’” 2)
2) KEDUA : TAKDIR ‘UMURI
Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan sperma (blatokist) sampai pada masa sesudah itu, dan bersifat umum; mencakup rizki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan diperut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqoh (morula/segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian menjadi mudhghoh (embrio/segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Alloh mengutus seorang malaikat diperintah (menulis) empat perkara : rizkinya, ajalnya, sengsara atau bahagia.
1. HR. Muslim (no.2633(16)) dan at-Tirmidzi (no.2165), Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no.557), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu’anhuma. Lafadz ini milik Muslim
2. HR. Abu Dawud (no.4700), Shahiih Abu Dawud (no.3933), at-Tirmidzi (no.2155, 3119), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no.102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thoyalisi (no.577), dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit rodhiyalloohu’anhu, hadist ini shahih.
Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kamu atau seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka melainkan satu depa atau satu hasta, ternyata catatan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalnya ahli syurga maka ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli syurga sampai tidak ada jarak antara dia dengan syurga melainkan satu hasta atau dua hasta, ternyata tulisan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalnya ahli neraka, maka ia pun memasukinya.” 3)
Takdir ini lebih khusus dari yang ada di Lauhul Mahfudz.
3) KETIGA : TAKDIR SANAWI (TAHUNAN)
Yaitu yang dicatat pada malam Lailatul Qodar setiap tahun, seperti firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kamu adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan :4-5)
Pada malam itu ditulislah semua apa yang bakal terjadi dalam satu tahun : mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal dan lain-lain, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya itu telah dicatat sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz, juga apa yang ditetapkan dalam takdir ‘umuri yang berkaitan khusus dengan individu. Dan Allah Maha Menjaga segala sesuatu.
4) KE EMPAT : TAKDIR YAUMI (HARIAN)
Yaitu dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rohman : 29)
Maksudnya, apa yang menjadi urusan-Nya menyangkut makhluk-Nya. Takdir ini dan kedua takdir sebelumnya (‘umuri dan sanawi) merupakan penjabaran dari taqdir azali.
3. HR. al-Bukhari VIII/152, dan Muslim IV/36
3. HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR
Diantara hikmah beriman kepada takdir adalah :
1) Dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya, sebagaimana firman-Nya, ''Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.'' (QS Fushshilat [41]: 51).
2)Dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah. Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra`du [13]: 11).
3) Dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ''Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.'' (QS An-Nisaa [4]: 79).
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Takdir termasuk kedalam rukun iman. Jadi, takdir harus diyakini oleh setiap muslim karena tidak ada satu hal pun yang terlepas dari ketentuan Allah. Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
2. Saran
Dalam hal penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, kami dari penyusun meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Rajawali Pers : Jakarta
Al-Qur’an al-Karim & terjemahannya.
Kitab Tauhid Jilid 2, Tim ahli Ilmu Tauhid, pustaka Darul Haq.
Kitab Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karya Usta
www.wikipedia.org
IMAN KEPADA TAKDIR
MAKALAH AQIDAH
DISUSUN OLEH
ANGGI GANIA PUTRI
ENITA RAHAYU
M. NOVRIANTO
LOKAL II F PBI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2009
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya , sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik . Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi raamat sekalian alam . Seiring dengan itu , tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini .
Makalah ini menjelaskan tentang Iman Kepada Takdir. Iman kepada takdir merupakan hal yang penting yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dalam makalah ini juga di sebutkan firman dan hadist nabi yang mewajibkan beriman kepada takdir. Juga dijelaskan macam-macam takdir dan hikmah beriman kepada takdir.
Penulis menyadari akan kekurangan dari makalah ini . Karena “ Tak ada gading yang tak retak ”. Oleh karena itu , saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat berguna bagi pembaca .
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………….. ii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………………... 1
1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………1
2. Identifikasi Masalah ……………………………………………………….. 1
3. Batasan Masalah ……………………………………………………………2
4. Metode Pembahasan ………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………... 3
1. Pengertian Takdir ………………………………………………………….. 3
2. Macam – macam Takdir ……………………………………………………5
3. Hikmah Beriman Kepada Takdir ………………………………………….. 7
BAB III PENUTUP …………………………………………………………………... 8
1. KESIMPULAN …………………………………………………………..... 8
2. SARAN ……………………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 9
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Takdir merupakan hal penting yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Karena sesesungguhnya takdir kita telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan oleh Allah. Jadi mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
Dan jikalau imannya rendah maka dia akan menyesali setiap musibah yang ditimpakan kepadanya. Perlu diingat bahwa, setiap hal yang telah ditentukan pasti terjadi. Dan takdir itu ada yang bisa dirubah dengan berusaha, yaitu dengan do’a dan usaha. Jikalau kita berhasil maka sesungguhnya Allahlah yang memindahkan kita dari takdir yang jelek ke takdir yang baik.
Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Pengertian Takdir
2. Macam – macam Takdir
3. Hikmah Beriman Kepada Takdir
Batasan Masalah
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada Pengertian, Macam-macam dan Hikmah Beriman Kepada Takdir.
Metode Pembahasan
Dalam hal ini penulis menggunakan:
1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang takdir manusia yang telah ditentukan Allah.
2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Takdir
Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Iman kepada Takdir adalah rukun iman yang keenam. Oleh karena itu orang yang mengingkarinya termasuk ke dalam golongan orang kafir. Dalil yang menunjukkan wajibnya iman kepada takdir terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah, yaitu :
“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(Al-Hadid:22)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Al-Qamar: 49).
Adapun dari hadits adalah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad tentang iman, maka Nabi Muhammad bersabda, “Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruk." (Bukhari Muslim).
Abdullah bin Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.” (HR. Muslim)
Iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa:
1. Allah mengetahui segala sesatu sebelum terjadi. Karena tidak ada sesutu pun yang luput dari pengetahuan Allah.
2. Semua yang yang terjadi di alam semesta ini terjadi karena kehendak Allah yang terlaksana dan tidak ada peran siapa pun di sana.
3. Bahwa semua yang terdapat di alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan karena kehendak-Nya.
4. Allah mencatat segala sesuatu sejak awal mula penciptaan dalam kitab-Nya (lauhul Mahfuzh).
Takdir Allah itu mencakup:
• Tata aturan alam semesta, seperti peredaran planet, aliran air, hembusan angin, susunan atom dan lain-lain.
• Yang terjadi pada kita dan kita tidak kemapuan untuk memilih dan ikhtiyar, seperti dijadikan laki-laki atau perempuan, dilahirkan di Indonesia atau di Arab, di Eropa dan lain-lain.
• Perbuatan-perbuatan yang berdasarkan pilihan, meliputi perbuatan mubah, ketaatan dan perbuatan maksiat.
Banyak orang yang keliru dalam memahami takdir, mereka menyangka bahwa Allah menakdirkan suatu akibat terpisah dari sebabnya, menakdirkan suatu hasil terpisah dari usaha untuk mencapainya. Maka jika ada orang yang mengatakan tidak akan menikah dengan alasan jika Allah telah menakdirkannya punya anak pasti dia punya anak walau tanpa menikah. Atau dia tidak mau makan dengan alasan jika Allah menakdirkan dia kenyang, dia pasti kenyang walau tanpa makan.
Maka orang yang ditakdirkan untuk masuk surga dia akan beramal shaleh. Dan jika dia berbuat maksiat, maka dia akan ditakdirkan masuk neraka. Jadi Allah menakdirkan sebab dan akibat secara bersama-sama. Artinya usaha dan sebab adalah bagian dari takdir Allah. Inilah yang ditunjukkan oleh hadits Rasulullah dan pemahaman para sahabat.
Rasulullah pernah ditanya seseorang, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang obat-obatan yang kami pergunakan untuk berobat, bacaan-bacaan tertentu untuk penyakit kami, dan perisai yang kami pakai untuk menangkis serangan musuh, apakah itu semua dapat menolak takdir Allah?” beliau menjawab, “Itu semua juga adalah takdir Allah.”
Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (Al-Hadits)
Suatu saat Abu Ubaidah memasuki wilayah yang sedang terjangkit wabah Tha’un, maka Umar memerintahkannya untuk keluar dari wilayah tersebut. Abu Ubaidah menyangkal dengan mengatakan, “Apakah kita akan lari dari takdir Allah.” Maka Umar menjawabnya, “Ya kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”
Ibnu Qayyim berkata, “Orang yang pintar adalah orang yang menolak takdir dengan takdir, dan melawan takdir dengan takdir. Bahkan sejatinya manusia tidak dapat hidup kecuali dengan itu. Karena lapar, dahaga, takut adalah bagian dari takdir. Dan semua makhluk senantiasa berusaha menolak takdir dengan takdir.”
Masalah takdir adalah masalah ghaib dan dirahasiakan Allah, kita tidak tahu apakah akan selamat atau celaka, yang tampak di hadapan kita adalah syariat, maka kewajiban kita adalah menjalankan syariat dan hasilnya akan sesuai dengan yang ditakdirkan oleh Allah.
2. Macam-macam Takdir
1) TAKDIR AZALI (TAKDIR UMUM)
Yaitu meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai Hari Kiamat.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid :22)
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Alloh telah mencatat seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Alloh menciptakan langit dan bumi.” 1)
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (Pena), lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah!’ Ia menjawab :’Wahai Robb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’” 2)
2) KEDUA : TAKDIR ‘UMURI
Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan sperma (blatokist) sampai pada masa sesudah itu, dan bersifat umum; mencakup rizki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan diperut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqoh (morula/segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian menjadi mudhghoh (embrio/segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Alloh mengutus seorang malaikat diperintah (menulis) empat perkara : rizkinya, ajalnya, sengsara atau bahagia.
1. HR. Muslim (no.2633(16)) dan at-Tirmidzi (no.2165), Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no.557), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu’anhuma. Lafadz ini milik Muslim
2. HR. Abu Dawud (no.4700), Shahiih Abu Dawud (no.3933), at-Tirmidzi (no.2155, 3119), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no.102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thoyalisi (no.577), dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit rodhiyalloohu’anhu, hadist ini shahih.
Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kamu atau seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka melainkan satu depa atau satu hasta, ternyata catatan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalnya ahli syurga maka ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli syurga sampai tidak ada jarak antara dia dengan syurga melainkan satu hasta atau dua hasta, ternyata tulisan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalnya ahli neraka, maka ia pun memasukinya.” 3)
Takdir ini lebih khusus dari yang ada di Lauhul Mahfudz.
3) KETIGA : TAKDIR SANAWI (TAHUNAN)
Yaitu yang dicatat pada malam Lailatul Qodar setiap tahun, seperti firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kamu adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan :4-5)
Pada malam itu ditulislah semua apa yang bakal terjadi dalam satu tahun : mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal dan lain-lain, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya itu telah dicatat sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz, juga apa yang ditetapkan dalam takdir ‘umuri yang berkaitan khusus dengan individu. Dan Allah Maha Menjaga segala sesuatu.
4) KE EMPAT : TAKDIR YAUMI (HARIAN)
Yaitu dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rohman : 29)
Maksudnya, apa yang menjadi urusan-Nya menyangkut makhluk-Nya. Takdir ini dan kedua takdir sebelumnya (‘umuri dan sanawi) merupakan penjabaran dari taqdir azali.
3. HR. al-Bukhari VIII/152, dan Muslim IV/36
3. HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR
Diantara hikmah beriman kepada takdir adalah :
1) Dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya, sebagaimana firman-Nya, ''Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.'' (QS Fushshilat [41]: 51).
2)Dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah. Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra`du [13]: 11).
3) Dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ''Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.'' (QS An-Nisaa [4]: 79).
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Takdir termasuk kedalam rukun iman. Jadi, takdir harus diyakini oleh setiap muslim karena tidak ada satu hal pun yang terlepas dari ketentuan Allah. Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
2. Saran
Dalam hal penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, kami dari penyusun meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Rajawali Pers : Jakarta
Al-Qur’an al-Karim & terjemahannya.
Kitab Tauhid Jilid 2, Tim ahli Ilmu Tauhid, pustaka Darul Haq.
Kitab Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karya Usta
www.wikipedia.org
Langganan:
Postingan (Atom)